Blokagung, Banyuwangi – Program Studi Tadris Bahasa Inggris (TBIG) Fakultas Tarbiyah dan Keguruan (FTK) Universitas KH. Mukhtar Syafaat (UIMSYA) kembali menunjukkan komitmennya dalam menghadirkan pembelajaran yang inovatif melalui penyelenggaraan Presentasi Budaya Internasional sebagai tugas akhir Mata Kuliah Cross Cultural Understanding (CCU), Kamis (23/7/2026) bertempat di Aula Al-Haromain Kampus 1. Kegiatan ini menjadi media pembelajaran yang mengintegrasikan kompetensi berbahasa Inggris dengan pemahaman lintas budaya, sekaligus menumbuhkan perspektif global mahasiswa dalam menghadapi dinamika masyarakat internasional.

Presentasi budaya internasional tersebut merupakan implementasi pembelajaran berbasis proyek (project-based learning) yang memberikan pengalaman belajar secara langsung kepada mahasiswa. Dalam kegiatan ini, mahasiswa tidak hanya dituntut menguasai teori mengenai komunikasi lintas budaya, tetapi juga melakukan kajian akademik terhadap budaya berbagai negara, kemudian menyajikannya secara komunikatif menggunakan bahasa Inggris.

Sebanyak sepuluh kelompok mahasiswa menampilkan representasi budaya dari berbagai belahan dunia, yakni India, Arab Saudi, Indonesia (Bali), Meksiko, Belanda, Afrika, Brasil, Korea Selatan, Belanda, dan Kenya. Setiap kelompok mengangkat berbagai aspek budaya, mulai dari identitas nasional, pakaian tradisional, kuliner khas, adat istiadat, kebiasaan masyarakat, hingga nilai-nilai budaya yang menjadi karakteristik masing-masing negara.

Seluruh materi dipresentasikan dalam bahasa Inggris sehingga mahasiswa dapat mengimplementasikan kemampuan berbicara (public speaking), penguasaan kosakata akademik, serta keterampilan komunikasi internasional yang telah dipelajari selama perkuliahan.

Kegiatan berlangsung dalam suasana yang semarak dan penuh antusiasme. Tidak hanya menyampaikan materi akademik, setiap kelompok juga menampilkan berbagai pertunjukan seni yang merepresentasikan budaya negara pilihannya. Fashion show dengan busana tradisional, pertunjukan tari, penampilan musik, hingga atraksi budaya menjadi bagian yang memperkaya proses pembelajaran sehingga lebih interaktif, menarik, dan bermakna.

Melalui pendekatan tersebut, mahasiswa memperoleh pengalaman belajar yang lebih komprehensif karena mampu menghubungkan teori dengan praktik. Mereka tidak hanya memahami konsep komunikasi lintas budaya secara konseptual, tetapi juga belajar menghargai keberagaman, membangun kerja sama tim, meningkatkan kreativitas, serta mengembangkan kemampuan berpikir kritis dalam menginterpretasikan budaya masyarakat dunia.

Dekan Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIMSYA, Dr. Zulfi Zumala Dwi Andriani, S.S., M.A., menyampaikan apresiasi atas kreativitas mahasiswa dan dosen pengampu yang terus menghadirkan pembelajaran inovatif sesuai dengan perkembangan pendidikan global.

“Pembelajaran bahasa Inggris pada era global tidak cukup hanya berorientasi pada penguasaan tata bahasa dan kemampuan berbicara. Mahasiswa juga harus memiliki kompetensi lintas budaya agar mampu berkomunikasi secara efektif dengan masyarakat internasional. Kegiatan ini menunjukkan bahwa mahasiswa mampu mengintegrasikan kemampuan akademik, komunikasi, kreativitas, dan karakter dalam satu proses pembelajaran yang utuh. Inilah bentuk implementasi pembelajaran yang relevan dengan kebutuhan abad ke-21 sekaligus mendukung visi FTK UIMSYA dalam mencetak lulusan yang unggul, adaptif, dan berdaya saing global,” ujar Dr. Zulfi.

Sementara itu, Ketua Program Studi Tadris Bahasa Inggris FTK UIMSYA, Ahmad Faruk, M.Pd., menjelaskan bahwa Mata Kuliah Cross Cultural Understanding dirancang untuk membangun kesadaran mahasiswa mengenai pentingnya memahami keberagaman budaya sebagai bekal menjadi pendidik bahasa Inggris yang profesional.

“Bahasa dan budaya merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Oleh karena itu, melalui presentasi budaya internasional ini mahasiswa tidak hanya belajar berbicara menggunakan bahasa Inggris, tetapi juga melakukan riset, menganalisis karakteristik budaya suatu negara, kemudian mengomunikasikan hasilnya secara ilmiah. Model pembelajaran seperti ini mampu meningkatkan kemampuan komunikasi, kolaborasi, kreativitas, serta rasa percaya diri mahasiswa dalam menggunakan bahasa Inggris,” jelasnya.

Lebih lanjut, Pak Faruk menambahkan bahwa kegiatan tersebut merupakan tradisi akademik yang secara konsisten dikembangkan oleh Program Studi Tadris Bahasa Inggris sebagai bagian dari penguatan pembelajaran berbasis praktik. Menurutnya, pengalaman belajar semacam ini menjadi bekal penting bagi mahasiswa dalam menghadapi dunia kerja maupun lingkungan akademik internasional.

Antusiasme mahasiswa terlihat sejak awal hingga akhir kegiatan. Masing-masing kelompok mempersiapkan penampilannya dengan sungguh-sungguh melalui proses riset, penyusunan materi, latihan presentasi, pembuatan dekorasi, penyediaan makanan khas, hingga penyiapan kostum tradisional yang sesuai dengan identitas budaya negara yang diangkat.

Salah seorang mahasiswa TBIG mengungkapkan bahwa kegiatan tersebut memberikan pengalaman belajar yang berbeda dibandingkan perkuliahan di kelas.

“Kami belajar bahwa memahami bahasa Inggris berarti juga memahami budaya penuturnya. Kegiatan ini membuat kami lebih percaya diri berbicara dalam bahasa Inggris karena harus mempresentasikan hasil riset di depan banyak orang. Selain itu, kami juga belajar menghargai keberagaman budaya dunia, memperkuat kerja sama tim, dan mengembangkan kreativitas dalam menyampaikan materi secara menarik,” tuturnya.

Mata Kuliah Cross Cultural Understanding sendiri merupakan salah satu mata kuliah yang memiliki peran strategis dalam membentuk kompetensi lulusan Program Studi Tadris Bahasa Inggris. Melalui mata kuliah ini, mahasiswa dibekali pemahaman mengenai komunikasi antarbudaya, nilai-nilai keberagaman, serta tantangan interaksi global yang semakin kompleks. Kompetensi tersebut menjadi modal penting bagi calon guru bahasa Inggris agar mampu menghadirkan pembelajaran yang inklusif, kontekstual, dan berwawasan internasional.

Penyelenggaraan Presentasi Budaya Internasional ini sekaligus menegaskan komitmen Program Studi Tadris Bahasa Inggris FTK UIMSYA dalam menghadirkan pembelajaran yang adaptif terhadap perkembangan zaman. Dengan memadukan kajian akademik, praktik berbahasa Inggris, eksplorasi budaya, serta pertunjukan seni, mahasiswa memperoleh pengalaman belajar yang holistik dan bermakna.

Melalui kegiatan ini, FTK UIMSYA terus memperkuat posisinya sebagai institusi pendidikan tinggi yang berorientasi pada pengembangan kompetensi global, tanpa meninggalkan nilai-nilai keislaman, kebangsaan, dan penghargaan terhadap keberagaman budaya. Diharapkan lulusan TBIG UIMSYA tidak hanya menjadi pendidik yang unggul dalam penguasaan bahasa Inggris, tetapi juga mampu menjadi agen pembelajaran yang memiliki wawasan multikultural, karakter inklusif, dan kesiapan berkompetisi di tingkat nasional maupun internasional.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *