
Menindaklanjuti surat pengumuman dari Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa tentang seleksi calon pengajar Bahasa Indonesia bagi Pengajar Asing (BIPA), prodi Tadris Bahasa Indonesia (TBIN) Fakultas Tarbiyah dan Keguruan (FTK) Universitas KH. Mukhtar Syafaat (UIMSYA) Blokagung, Banyuwangi pada Kamis (21/09/25) mengikuti Bimbingan Teknis Program Kemitraan BIPA bagi Pengajar BIPA di lingkungan UIN Raden Mas Said Surakarta dan Perguruan Tinggi Islam Lainnya. Dari prodi Tadris Bahasa Indonesia UIMSYA diwakili oleh Ali Manshur selaku ketua program studi.
Kegiatan ini dihadiri oleh perwakilan prodi Tadris Bahasa Indonesia se-Jawa, UPT Bahasa dari sebagian PTKI, pengajar BIPA, dan pengurus IPTABI (Ikatan Prodi Tadris Bahasa Indonesia). Acara yang dihelat di gedung UPT Bahasa UIN Raden Mas Said ini diawali oleh sambutan kepala UPT Bahasa Raden Mas Said bapak Sulhani Hermawan. Dalam sambutannya dosen sekaligus Katib Syuriah NU Surakarta ini menekankan akan pentingnya memahami sejarah bahasa Indonesia.

Tak lupa dalam sambutannya menyentil tentang fenomena bahasa Indonesia sudah banyak dipelajari di banyak negara. “Kita juga harus bangga bahwa saat ini bahasa Indonesia sejak 2023 sudah diresmikan oleh UNESCO sebagai salah satu bahasa resmi ke sepeluh, ini tentunya tak lepas dari peran program BIPA yang telah digagas Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa sejak dulu,” terangnya dengan semangat.

Sambutan kedua sekaligus pembukaan kegiatan disampaikan oleh bapak Toto Suharto selaku rektor UIN Raden Mas Said. Dalam sambutannya rektor yang serinng dipanggil kiai ini menginginkan agar Bimbingan Teknis tentang keBIPA-an tak hanya berhenti di sini. “Ini merupakan wujud langkah awal kerjasama di lingkungan PTKI, jadi saya harap kegiatan ini berkelanjutan,” terangnya. Beliau juga menginginkan agar ada pendekatan-pendekatan baru terkait kegiatan ini. Karena pada dasarnya bahasa merupakan ilmu yang wajib dipraktikkan, bukan sekadar ahli yang hanya tahu tentang teori bahasa.
Pada kegiatan inti, bimbingan teknis BIPA ini diisi oleh pemateri yang sudah ahli di bidang masing masing. Materi pertama diisi oleh bapak Doni Setyawan selaku perwakilan dari PUSDAYA (Pusat Pemberdayaan Bahasa dan Sastra. Materi pertama ini lebih menekankan pada regulasi terkait pelaksanaan BIPA baik yang berada di dalam dan di luar negeri.

Termasuk di dalamnya tentang hakikat tujuan dan manfaat terkait perlunya BIPA dilaksanaan. “Kegiatan ini tak lepas dari tujuan bangsa Indonesia, bahwa program BIPA ini merupakan salah satu bentuk penginternasionalan bahasa Indonesia di tingkat dunia.” terangnya. Tapi beliau tak lupa juga menekankan pentingnya dalam memahami Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI) Pengajar BIPA sebagai produk regulasi penjamin mutu pembelajaran BIPA melalui standardisasi kompetensi BIPA. Jadi betul-betul ke depannya pengajar BIPA memiliki kompetensi yang bisa diandalkan.
Materi kedua diisi oleh bapak Yus Yusuf selaku perwakilan dari Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa. Salah satu petinggi penting di Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa ini menyampaikan materi tentang Subtansi SKKNl pengajar BIPA aspek Diplomasi dan Industri. Salah satu penjelasan penting tentang hal ini adalah program BIPA ini menjadi ujung tombak dalam diplomasi kebahasaan.

Hal ini tentunya perlu didikung dengan SKKNI yang sudah terstandar kompetensinya. Adapun arah kompetensi diplomasi dalam SKKNI, pengajar BIPA harus memahami fungsi strategis bahasa sebagai alat untuk menjalin hubungan internasional. “Mereka, para pengajar BIPA harus mampu mengintegrasikan nilai-nilai keindonesiaan dalam proses pembelajaran, serta berperan aktif dalam mempromosikan bahasa dan budaya Indonesia kepada penutur asing,”imbuhnya.

Materi ketiga tentang Manajemen Pengelolaan Program BIPA di PTKI disampaikan oleh ibu Siti Isnaniyah. Perempuan yang sekaligus menjadi ketua Ikatan Program Studi Tadris Bahasa Indonesia (IPTABI) lebih fokus pada proses pengelolaan yang sudah dilaksanakan selama ini. Terkait dengan pengeloaan lembaga ini perlu adanya lima pilar yang harus ada dan tidak boleh ditwar. Lima pilar tersebut adalah akademik, manajerial, administrasi dan imigrasi, informasi dan pemasaran, publikasi. “Jadi jika ingin lembaga BIPA bapak ibu ingin bisa eksis dan berkelanjutan lima pilar ini jangan sampai ditinggalkan.” Jelasnya. Karena sesuai dengan pengalaman yang telah dialami, surutnya peminat mahasiswa asing di kampus di PTKI untuk belajar BIPA, karena salah satu dari lima pilar tadi tidak berjalan maksimal.
Penutup materi di kegiatan ini diisi oleh Ibu Aninditya Sri Nugraheni. Dosen pengajar di UIN Sunan Kalijogo Yogyakarta ini mendapat jatah materi Internasionalisasi melalui Case Method dan Project Based Learning. Ada beberapa hal yang dijelaskan dalam materi terakhir ini. Di antaranya tentang persiapan kelas BIPA, alur pembelajaran BIPA, dan praktik yang bisa memancing kesemangatan bagi pengajar dan sasaran BIPA. Dalam salah satu penjelasannya kegiatan praktik BIPA usahakan materi yang diberikan materi yang sifatnya praktik, tapi juga melihat dari tingkatan masing-masing pembelajar.

Modul pembelajaran yang disusun juga menyesuaikan konteks dari lingkungan tempat pengajaran berlangsung. “Sebagai contohnya saya yakin, antara mahasiswa BIPA UIN Raden Mas Said dan UIN Sunan Kalijogo ada perbedaan terkait konteks kedaerahan, ini yang perlu digali agar mahasiswa selalu tertantang untuk belajar.” Terangnya dengan semangat. Satu hal lagi yang menurutnya tidak boleh ketinggalan, adaptasi terhadap teknologi kekinian.
Kegiatan ini diakhiri dengan testimoni beberapa pengajar BIPA yang hadir serta berpengalaman dalam melalang buana antar negara di dunia. Baik di Asia, Eropa, Amerika, Afrika maupun di Autralia. Dari testimoni ini dapat diketahui bahwa proses seleksi pengajar BIPA ini memang benar-benar selektif. Kualitas jadi faktor utama bisa diterima atau ditolaknya pendaftar. Gambaran atau karakter mahasiswa dari masing-masing negara juga dapat diketahui dari testimoni. Beda negara, beda mahasiswa, beda pula karakter dan sifatnya.